27 Apr
272

BERDAGANG BERSAMA DENGAN TUHAN

يايهاالذين امنوا هل ادلكم على تجارة تنجيكم من عذاب اليم تؤمنون بالله ورسوله وتجاحدون فى سبيل الله باموالكم وانفسكم ذالكم خير لكم ان كنتم تعلمون ( الصف ١٠-١١)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (Ash-Shaf: 10-11)

Ayat ini mengandung  ajakan Tuhan  untuk berdagang (melakukan transaksi) bersama dengan manusia sebagai makhluk-Nya. Ajakan ini sebagai respon ayat al-Qur’an di tengah lokus yang tumbuh dengan  akitivitas transaksi perdagangan arab pra Islam.

Posisinya sebagai "Pedagang", Tuhan memasarkan pada manusia barang-barang berkualitas agar dibeli dengan cara transaksi yang benar, memuaskan, dan tidak merugikan konsumen.

Tuhan sudah lama mencermati pertumbuhan ekonomi wilyah arab pra Islam yang sangat maju. Salah satunya adalah Yaman yang bergerak di bidang pertanian. Yaman berhasil menjalin hubungan perdagangan internsional dengan India, Persia, dll. Barang-barang yang diproduki dan diekspor Yaman antara lain adalah kismis, kayu dan minyak wangi. Kemajuan perekonomian Yaman ditandai dengan berdirinya bendungan Ma'rib yang amat megah dan membanggakan. Kebanggaan itu akhirnya hancur dan sirna karena ulah para penguasanya yang zalim, culas dan korup.

Begitupun Mekah terkenal sebagai pusat dan lantas perdagangan internasional. Di tempt ini struktur pembangunan ekonomi dijalankan pertama oleh kelompok konglmerat sebagai pemegang modal, kedua kelompok penerima yang menjalankan modal dari konglomerat dengan    pengembalian imbalan yang menekuk keadilan. Dan kelompok ketiga adalah kelompok keamanan dan preman (perampok) yang mendapat imbalan presentase yang cukup besar. Transaksi ekonomi di tempt ini berjaln dengan sistem monopoli dan riba yang amat memeras dan mencekik rakyat.

Tuhan sudah lama membidik kondisi tersebut sebagai kondisi dinamik, inovatif, dan kreatif, tapi tidak sehat untuk membangun transaksi yang adil, bermoral bagi kebutuhan segenap umat.

Bahkan pasar-pasar yang berdiri megah seperti pasar ukaz, mijanah dan zulmajaz, cukup diisi dengan transaksi kebudayaan dan perdagangan. Transaksi perdagangan dimonopoli para konglomerat  yang mengekploitasi kum miskin. Sementara transaksi kebudyaan diisi dengan atraksi seni dan pembacaan syair yang mengundang birahi ganas dan keindahan bahasa yang menyeret kemalasan pasiv.

Karena itu, Tuhan lewat ayat al-Qur’an,  segera melakukan evaluasi, perbaikan dan sekaligus perombakan dari kondisi fundamental ekonomi Hijaz yang liberalis kuantitatif  materialis menjadi kualitatif matrialis. Dalam bahasa Tuhan disebut dengan terminologi Tijarah., yaitu perniagaan yang bernilai amal saleh nan berkah dan meraih pahala.

Disinilah sebenarnya gagasan al-Qur’an tentang Tijarah,  Tuhan ingin umat manusia berdagang dengan-Nya sehingga transaksi dapat dikontrol dan dilakukan secara transparan. Produk atau barang yang berkualitas diterangkan dalam transaksi dan  tidak disembunyikan yang mengakibatkan kerugian umat. Contoh kasus freeport adalah model transaksi terselubung yang merugikan rakyat.

Transaksi perdagangan semacam inilah yang dicita-citakan Tuhan. Namun amat disayangkan barang-barang /produk kualits yang dipasarkan Tuhan tidak dibeli/direspon oleh para pemain ekonomi. Mereka lebih merapat dan berkolusi dengan kelompok elit tetentu daripada merapat dan berkolusi dengan Tuhan. Akibtnya kekayaan hanya melimpah dan bertumpuk pada mereka, sementara kaum miskin tidak menikmatinya dengan amat layak.

Kesenjangan ini membuat perekonomian negara yang sudah dibangun kian pasti dilanda badai krisis dan hampir mengalami titik kehancuran seperti yang terjadi pada bendungan maa'rib di Yaman.

Karena itu, produk kualitas yang dipasarkan Tuhan dalam ayat di atas berupa jihad dengan harta dan jiwa , merupakan pilihan berdagang dan kolusi niscaya dengan Tuhan. Upaya ini perlu dirancang dalam rangka merevolusi mental para pemain transaksi perekonomian sehingga aktifitas transaksi tumbuh dan berjalan transparan, akuntibel serta berdampak memenuhi kesejahteraan umat (rakyat).

Pada akhirnya negara kita yang didominasi oleh konglomerat akan terlepas dari penderitaan yang menjerat dan selamat dari siksa dunia maupun akherat.

Wallahu A'lam