10 Mei
453

PETAKA BANYAK BICARA

ياايها الذين امنوا لم تقولون مالا تفعلون. كبر مقتا عند الله ان تقولوا مالا تفعلون (الصف :2-3 )

"Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakn sesuatu yang tidak kalian kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwasanya kalian mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan (as-Shaf : 2-3).

Ayat ini dilendingkan Tuhan di tengah kaum yang banyak bicara dengan menyebarkan kata-kata berbau fitnah tapi enggan berjuang (jihad) bersama Rasulullah. Mereka pintar bersembunyi di balik tembok kata-kata yang membual. Namun sesungguhnya mereka pengecut dan penakut untuk terjun di medan juang kemanusiaan.

Sejak awal memang mereka tidak ada niat berkontribusi di medan juang. Kecuali keterampilan memfitnah yang didisainnya di hadapan Nabi dan umatnya. Ketika keinginan berjuang ditampilkannya, mereka hanya pura-pura sehingga Tuhan membencinya dan pada akhirnya Tuhan secara total mematikan semangat perjuangan mereka.

Gambaran di atas menunjukkan betapa Tuhan Murka terhadap manusia yang hanya terampil menghias kata tanpa menggoreskan perbuatannya. Kata dan perbuatan harus berjalan secara beriringan. Kata tak mungkin terwujud tanpa gerak. Sebagaimana perbuatan tak akan menjelma tanpa ujaran. Keduanya telah dirancang Tuhan memiliki martabat dan mengemban misi yang mulia.

Dalam Firman, Tuhan sendiri telah merancang misi berkata/berbicara untuk membangun pesan perdamaian dan peradaban dengan logika/argumen yang tinggi. Kalimat - kalimat al-Qur’an yang berbunyi qulu qawlan syadidan/kariman/layyinan/ balighan, yang artinya berbicalah dengan bahasa yang tegas/lembut/mulia/menyentuh (argumentatif). Kalimat ini mengandung misi betapa Tuhan menginginkan umat manusia agar tidak asal berbicara yang menyebabkan situasi menjadi tidak produktif. Dengan kata lain berbicara yang tidak membuat umat tersingung dan resah. Akan tetapi berbicara yang diterima umat karena pesan, logika dan argumentnya mengandung misi yang menyentuh perdamaian dan peradaban yang diharapkan umat.

Amat disayangkan dalam setuasi bangsa/umat yang belum stabil dari multi krisis ini, masih saja dijumpai para elit baik dari kalangan tokoh maupun pemimpin yang berbicara kasar dan arogan. Mereka banyak berbicara ceplas ceplos tanpa tedeng aling aling . Siapa saja yang mengiritiknya dan tidak setuju dengan kebijakannya dimarahi dengan kata-kata spontanitas tanpa pilihan kata yang beradab. Seakan akan apa yang dikatakannya paling benar. Padahal sebenarnya yang bersangkutan tengah ditimpa penyakit kebeloonan sosiologis. Ia telah gagal memahami lingkungannya sendiri yang demikian komplek dari sisi sosial dan taraf hidup ekonomi yang sangat rentan mendatangkan konflik.

Akibat dari berbicara yang tidak beradab kini tengah terjadi malapetaka psikologis dalam situasi manajemen kepemimpinan. Mundurnya salah satu pejabat publik dari suatu institusi penting menandakan bahwa dalam manajemen kepemimpinan telah terjadi penyakit psikis dan humanis, yang menyebabkan tata hubungan kepemimpinan mengalami keretakan konektif yang amat fatal.

Sejarah kelam bangsa telah menorehkan catatan tragedis/petaka yang amat mengerikan karena dipicu oleh para elit yang banyak bicara tanpa kontrol.  Berapa banyak manusia di saat itu digorok, toko-toko dijarah, gedung-gedung kehormatan dan kendaraan mewah dibakar. Kerugian besar baik moral maupun materi sungguh tak ternilai harganya untuk membayar noktah sejarah jerih payah dan jasa kepahlawanan yang telah dicabik-cabik oleh elit bangsa yang berotak kerdil dan berhati busuk.

Orang bijak menyatakan, "bahaya orang yang terpleset kaki tak sehisteris tragedi malapetakanya  dibandingkan dengan bahaya terpeleset lisan" ."sesungguhnya orang yang paling aku benci dan jauh di akhirat dariku, kata Nabi SAW, adalah orang yang paling jelek akhlaknya dan orang yang banyak  bicara dengan sombong".

Oleh karena itu di saat bangsa yang masih belum pulih dari keterpurukan ini, bagi semua segmen terutama kaum elit / para pemimpin hendaknya mampu menahan diri dari bayak bicara/statment-statment yang bernada sompral, arogan dan yang menyakitkan hati berbagai kalangan umat. Bangsa yang sudh demikian perih dan lelah, jangan coba-coba para pemimpin mengusik rakyat dengan membusungkan dada keangkuhannya karena cepat atau lambat kelak akan terjadi malapetaka/kehancuran baru yang lebih mengerikan. Nauzubillah !